PENGANGGURAN, INFLASI, DAN KEBIJAKAN PEMERINTAH
· Masalah
Pengangguran
Tingginya angka pengangguran
berdampak buruk pada perekonomian, seperti tingkat kesejahteraan masyarakat
yang rendah, produktivitas yang rendah, dan pendapatan masyarakat. Pengangguran
umumnya disebabkan karena jumlah angkatan kerja tidak sebanding dengan jumlah
lapangan kerja yang tersedia.
a. Jenis
Pengangguran Berdasarkan Penyebabnya
1) Pengangguran
Normal atau Friksional
Pengangguran tidak benar-benar tidak dapat mendapatkan
pekerjaan; sebaliknya, mereka sedang mencari pekerjaan yang lebih dihargai dari
sebelumnya.
Contoh: saat Anda bosan dengan pekerjaan Anda saat ini atau
mendapatkan gaji yang lebih besar dari sebelumnya.
2) Pengangguran
Siklikal
Variasi pengangguran yang disebabkan oleh siklus bisnis
atau sebagai akibat dari resesi dan depresi ekonomi di suatu negara.
Contoh: Akibat dari penurunan ekonomi selama pandemi COVID-19.
3) Pengangguran
Struktural
jenis pengangguran sukarela di mana ada ketidaksesuaian
antara keterampilan yang dimiliki pekerja dan yang diminta pengusaha
Contoh: Ketika ekonomi beralih dari perkebunan ke industri
4) Pengangguran
Teknologi
kehilangan pekerjaan sebagai akibat dari kemajuan teknologi
Contoh: Seorang karyawan bagian las mobil menganggur setelah
tempatnya bekerja kini menggunakan robot untuk mengelas mobil.
b. Jenis
Pengangguran Berdasarkan Cirinya
1) Pengangguran
Terbuka
Termasuk dalam kategori pengangguran terbuka adalah
orang-orang berikut: mereka yang tidak memiliki pekerjaan dan mencari
pekerjaan; mereka yang tidak memiliki pekerjaan dan mempersiapkan usaha; dan
mereka yang tidak memiliki pekerjaan dan tidak mencari pekerjaan karena merasa
tidak mungkin mendapatkan pekerjaan.
2) Pengangguran
Tersembunyi
Kondisi di mana jumlah tenaga kerja yang dibutuhkan lebih
besar dari yang diperlukan
3) Pengangguran
Bermusim
Tenaga kerja yang tidak dapat bekerja karena terikat pada musim tertentu;
ini terutama terjadi di bidang pertanian dan perikanan.
4) Setengah
Menganggur
Mereka yang kurang dimanfaatkan dalam bekerja diukur dari
jam kerja, produktivitas, dan pendapatan.
c. Beberapa
Tujuan dan Kebijakan Pemerintah
1) Tujuan
Bersifat Ekonomi
Tiga alasan utama untuk memerangi pengangguran adalah
ekonomi: menciptakan pekerjaan baru; meningkatkan kemakmuran masyarakat; dan
meningkatkan kesetaraan pembagian pendapatan.
a) Menyediakan
Lowongan Pekerjaan
Kebijakan pemerintah untuk mengurangi pengangguran
berkonsentrasi pada penyediaan pekerjaan.
b) Meningkatkan
Taraf Kemakmuran Masyarakat
Hubungan erat antara peningkatan kesempatan kerja dan
penurunan pengangguran dengan pendapatan nasional dan kemakmuran masyarakat.
Peningkatan kesempatan kerja meningkatkan pendapatan nasional dan pendapatan
per kapita, ukuran kasar dari kemakmuran masyarakat.
c) Memperbaiki
Pembagian Pendapatan
Kesaksamaan pembagian pendapatan terganggu oleh
peningkatan pengangguran. Upah golongan berpendapatan rendah dapat dipengaruhi
oleh pengangguran yang berlebihan. Sebaliknya, dengan tingkat pengangguran yang
rendah, lebih mudah untuk menuntut kenaikan upah. Akibatnya, peningkatan
kesempatan kerja dapat meningkatkan pembagian pendapatan.
2) Tujuan
Bersifat Sosial Politik
Kebijakan pengangguran pemerintah juga bertujuan untuk
mencapai beberapa tujuan sosial dan politik.
3) Meningkatkan
Kemakmuran Keluarga dan Kestabilan Keluarga
Dari sudut pandang mikro, tujuan ini sangat signifikan.
Jika salah satu anggota keluarga mengundurkan diri, berbagai masalah timbul,
termasuk keterbatasan dalam pengeluaran, penurunan taraf kemakmuran keluarga,
dan kesulitan untuk membiayai pendidikan anak-anak. Selain itu, pengangguran
dapat menyebabkan dampak psikologis, seperti rasa rendah diri dan konflik
keluarga.
4) Menghindari
Masalah Kejahatan
Karena meskipun pekerja kehilangan pendapatan, kebutuhan
hidup mereka harus tetap terpenuhi, pengangguran dapat mendorong tindakan
kejahatan.
5) Mewujudkan
Kestabilan Politik
Stabilitas politik sangat penting untuk pertumbuhan dan
stabilitas ekonomi. Pengangguran dapat menyebabkan ketidakpuasan masyarakat
terhadap pemerintah, yang dapat mengarah pada demonstrasi dan kritik terhadap
pemerintah.
· Masalah
Inflasi (Kenaikan Harga)
Inflasi adalah peningkatan harga
secara umum dan terus-menerus. Kenaikan harga satu atau dua barang saja tidak
dapat dianggap sebagai inflasi jika kenaikan tersebut meluas ke harga barang
lainnya. Bertambahnya jumlah uang menyebabkan inflasi. Menurut ahli klasik, ada
korelasi antara harga barang atau jasa dan uang yang beredar. Jika uang yang
beredar lebih banyak daripada barang tetap, harga barang atau jasa dapat
menjadi mahal.
a. Jenis-jenis
Inflasi
1) Inflasi
Tekanan Permintaan (Demand-pull Inflation)
Ini terjadi ketika permintaan akan barang dan jasa melebihi kapasitas produksi ekonomi. Kurva D bergerak ke arah D, yang menyebabkan harga naik dari P ke P1. Ini menunjukkan tekanan permintaan.
2) Inflasi
Dorongan Biaya
Ini terjadi ketika biaya produksi meningkat, mendorong harga barang dan jasa naik. Kenaikan harga bahan baku, tenaga kerja, atau biaya produksi lainnya dapat menyebabkan penurunan daya beli uang secara keseluruhan. Perusahaan cenderung menaikkan harga produk mereka sebagai tanggapan terhadap tekanan biaya yang meningkat, seperti yang ditunjukkan dalam gambar di mana kurva AS bergeser ke AS1.
3) Imported
Inflation
Inflasi yang disebabkan oleh perubahan harga barang dan jasa serta nilai tukar mata uang asing. Fenomena ini menyebabkan kenaikan harga barang dan jasa impor, yang mengakibatkan kenaikan harga produk dalam negeri dan negara mitra dagang.
Karena pendapatan ini di bawah pendapatan kesempatan kerja penuh (Yf), ada banyak pengangguran. Harga barang impor yang signifikan naik di berbagai industri, yang menyebabkan biaya produksi meningkat. Akibatnya, kurva penawaran agregat berubah dari AS1 ke AS2, dan pendapatan turun dari Y1 ke Y2, sedangkan tingkat harga naik dari P1 ke P2. Ini menunjukkan bahwa perekonomian mengalami peningkatan masalah inflasi dan pengangguran secara bersamaan.
b. Inflasi
merayap dan Hiperinflasi
Inflasi merayap adalah siklus
kenaikan harga yang lambat. Inflasi ini ditandai dengan kenaikan harga yang
tidak melebihi dua atau tiga persen per tahun. Dalam inflasi merayap, tingkat
kenaikan harga relatif rendah dan stabil, sehingga tidak berdampak yang
signifikan pada kestabilan ekonomi. Contohnya, dua negara yang mengalami
inflasi merayap adalah Malaysia dan Singapura, di mana tingkat kenaikan harga
tidak melebihi dua atau tiga persen per tahun. Inflasi merayap dianggap sebagai
kondisi yang relatif terkendali dan tidak memberikan tekanan yang signifikan
terhadap stabilitas ekonomi atau daya beli masyarakat. Kebijakan moneter dan
fiskal untuk menjaga keseimbangan ekonomi mungkin lebih mudah diterapkan ketika
tingkat inflasi rendah.
Hiperinflasi adalah situasi ekonomi yang ekstrim dan tidak biasa di mana inflasi meningkat dengan cepat dan tidak terkendali. Hiperinflasi melibatkan penurunan nilai mata uang dan kenaikan harga barang dan jasa. Jika laju inflasi suatu negara mencapai 50% hingga 100% dalam waktu satu bulan, negara tersebut dianggap mengalami hiperinflasi. Fenomena ini dapat menyebabkan kerugian masyarakat yang signifikan, seperti kehilangan daya beli, ketidakstabilan ekonomi, dan ketidakstabilan sosial. Sebagai contoh, Indonesia mengalami hiperinflasi pada awal tahun 60-an karena pencetakan uang yang berlebihan. Disebabkan oleh peristiwa ini, Indonesia mengalami masa kelam di mana inflasi mencapai 600%, menurunkan kepercayaan rakyat terhadap rupiah, merusak daya beli masyarakat, dan berdampak besar pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
c. Efek
Buruk Inflasi
1) Menurunkan
daya beli masyarakat: Karena harga uang terus naik, masyarakat akan kesulitan
untuk membeli barang-barang yang dianggap penting karena inflasi.
2) Merugikan
bagi Peminjam: Inflasi juga dapat merugikan peminjam karena ketika mereka
meminjam uang, harga pasar sudah naik, sehingga ketika mereka harus membayar
kembali pinjaman, nilai uang yang harus mereka kembalikan akan lebih rendah
daripada nilai uang yang akan mereka pinjam.
3) Merusak
struktur ekonomi: Inflasi yang tinggi dapat merusak struktur ekonomi negara
karena menyebabkan ketidakstabilan harga di pasar, yang dapat mempengaruhi
investasi dan keputusan bisnis, menghambat pertumbuhan ekonomi.
4) Menyebabkan
Ketidakpastian: Inflasi yang tinggi juga dapat menimbulkan ketidakpastian bagi
orang-orang karena mereka tidak tahu berapa harga barang yang akan mereka beli
di masa depan, yang dapat mengurangi kepercayaan mereka terhadap pemerintah dan
menimbulkan kegelisahan di masyarakat.
5) Menurunkan
kesejahteraan masyarakat: Inflasi yang tinggi dapat menurunkan kesejahteraan
masyarakat karena membuat orang kesulitan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Masyarakat dengan pendapatan rendah akan lebih terpengaruh oleh inflasi
daripada masyarakat dengan pendapatan tinggi.
· Masalah
Pengangguran dan Kebijakan Fiskal
a. Efek
Kebijakan Fiskal: (Pendekatan Y = AE)
Dalam pendekatan
pendapatan-agregat (Y = AE), kebijakan fiskal juga berdampak besar pada
ekonomi. Dalam hal ini, beberapa aspek utama dampak kebijakan fiskal adalah
sebagai berikut:
1) Pengeluaran
Agregat (AE): Komponen pengeluaran agregat (konsumsi, investasi, pengeluaran
pemerintah, dan ekspor bersih) dapat dipengaruhi oleh kebijakan fiskal, seperti
peningkatan pengeluaran pemerintah atau pemotongan pajak. Perubahan ini pada
gilirannya dapat mempengaruhi tingkat pengeluaran agregat.
2) Tingkat
Output (Y): Jika kebijakan fiskal ekspansif meningkatkan pengeluaran ekonomi
secara keseluruhan, mereka cenderung meningkatkan tingkat output. Sebaliknya,
kebijakan fiskal kontraktif dapat mengurangi aktivitas ekonomi dan menurunkan
tingkat output.
3) Keseimbangan
Anggaran: Keseimbangan anggaran pemerintah dapat dipengaruhi oleh kebijakan
fiskal; kebijakan fiskal ekspansif dapat menyebabkan defisit, sementara
kebijakan fiskal kontraktif dapat bertujuan untuk mengurangi defisit atau
mencapai surplus.
4) Inflasi:
Kebijakan fiskal kontraktif dapat membantu mengontrol inflasi, tetapi
peningkatan pengeluaran agregat dapat menimbulkan tekanan inflasi.
5) Pengangguran: Dengan mendorong investasi dan produksi, kebijakan fiskal yang merangsang aktivitas ekonomi dapat membantu mengurangi tingkat pengangguran.
Penting untuk diingat bahwa dampak kebijakan fiskal yang dihasilkan oleh metode ini juga dapat bergantung pada reaksi sektor swasta terhadap perubahan kebijakan serta variabel lain seperti kebijakan moneter dan kondisi pasar internasional. Selain itu, komponen struktural ekonomi dan produktivitas juga dapat memengaruhi dampak kebijakan fiskal dalam jangka panjang.
b. Efek
Kebijakan Fiskal: (Pendekatan Analisis AD-AS)
Menurut analisis
permintaan-suplai agregat (AD-AS), kebijakan fiskal memengaruhi tingkat output
dan harga ekonomi. Ini adalah beberapa dampak utama:
1) Tingkat
Output (Y): Dalam jangka pendek, kebijakan fiskal, seperti menaikkan
pengeluaran pemerintah atau mengurangi pajak, dapat meningkatkan pengeluaran
agregat dan menggerakkan kurva AD ke arah yang lebih kanan, yang mengarah pada
peningkatan tingkat output.
2) Tingkat
Harga (P): Karena permintaan yang lebih tinggi untuk barang dan jasa, kenaikan
tingkat harga umum, dapat menyebabkan tekanan inflasi. Sebaliknya, kebijakan
fiskal kontraktif, seperti pengurangan pengeluaran pemerintah atau kenaikan
pajak, dapat menekan inflasi.
3) Keseimbangan
Pendapatan Nasional: Kebijakan fiskal dapat mempengaruhi keseimbangan antara
pendapatan nasional dan pengeluaran agregat. Jika perekonomian berada di bawah
keseimbangan, kebijakan fiskal ekspansif dapat membantu mengurangi celah
tersebut.
4) Tingkat
Bunga: Jika pasar keuangan mengantisipasi risiko inflasi, peningkatan
pengeluaran pemerintah dapat mendorong kenaikan suku bunga. Sebaliknya,
kebijakan fiskal kontraktif dapat meredakan tekanan tersebut.
5) Investasi dan Produktivitas: Kebijakan fiskal dapat meningkatkan investasi dan produktivitas dalam jangka panjang dengan meningkatkan output dan aktivitas ekonomi.
Penting untuk memahami bahwa efek kebijakan fiskal tidak selalu linier, dan respons perekonomian terhadap perubahan kebijakan dapat dipengaruhi oleh banyak faktor, termasuk kebijakan moneter, kondisi pasar tenaga kerja, dan kondisi ekonomi global.
c. Kebijakan
Moneter dan Masalah Pengangguran
Dalam beberapa cara, kebijakan
moneter dapat memengaruhi tingkat pengangguran. Misalnya, penyesuaian suku
bunga oleh bank sentral dapat memengaruhi investasi perusahaan dan konsumsi
masyarakat, yang pada gilirannya memengaruhi tingkat pengangguran. Sebaliknya,
penurunan suku bunga dapat mendorong aktivitas ekonomi dan membantu
meningkatkan pertumbuhan ekonomi.
Namun, seringkali diperlukan keseimbangan yang tepat antara kebijakan moneter dan fiskal untuk memerangi pengangguran karena dampak kebijakan moneter tidak selalu langsung dan dapat dipengaruhi oleh faktor lain seperti fleksibilitas pasar tenaga kerja, kebijakan fiskal, dan kondisi ekonomi global.
d. Kebijakan
Fiskal untuk Mengatasi Inflasi
Untuk mengatasi inflasi, kebijakan fiskal dapat
menggunakan instrumen seperti:
1) Pengetatan
pengeluaran pemerintah
Mengurangi tekanan demand pasar melalui pengurangan
anggaran pemerintah.
2) Kenaikan
tarif pajak
Menaikkan tarif pajak akan mengurangi daya beli
masyarakat, mengurangi konsumsi, dan menekan inflasi.
3) Peningkatan
efisiensi belanja publik
memastikan belanja pemerintah lebih terarah dan lebih
efisien dengan menghindari pemborosan.
4) Pengendalian
utang publik
Mengawasi defisit anggaran dan mengurangi utang publik
untuk mencegah jumlah uang beredar meningkat.
5) Peningkatan
suku bunga
Bank sentral menaikkan suku bunga untuk mengurangi
pinjaman dan investasi, mengontrol pertumbuhan ekonomi.
6) Intervensi
mata uang
Mempengaruhi daya saing ekspor dan impor melalui
investasi pada nilai tukar mata uang
Penerapan kebijakan ini sebaiknya disesuaikan dengan kondisi ekonomi dan
inflasi yang spesifik pada waktu tertentu.
e. Kebijakan
Moneter untuk Mengatasi Inflasi
Kebijakan moneter untuk mengatasi inflasi dapat mencakup menaikkan suku bunga, mengurangi jumlah uang beredar, atau menggunakan instrumen kebijakan lainnya untuk mengontrol pertumbuhan harga. Tujuan dari kebijakan ini adalah untuk mengurangi permintaan ekonomi secara keseluruhan dan menstabilkan tingkat harga.
f. Kebijakan
Fiskal atau Kebijakan Moneter
Dua
alat utama yang digunakan pemerintah dan bank sentral untuk mengatur
perekonomian adalah kebijakan fiskal dan moneter. Meskipun keduanya bertujuan
untuk mencapai stabilitas ekonomi, mereka memiliki cara yang berbeda untuk
mencapainya.
Perbedaan
utama antara kebijakan fiskal dan kebijakan moneter adalah sebagai berikut:
Tujuan: Tingkat permintaan agregat dan
aktivitas ekonomi dipengaruhi oleh kebijakan fiskal dan moneter.
Pelaksana: Pemerintah menjalankan kebijakan
fiskal, sedangkan bank sentral menjalankan kebijakan moneter.
Instrumen: Pengeluaran pemerintah dan pajak
adalah instrumen kebijakan fiskal, sedangkan kebijakan moneter mencakup operasi
pasar terbuka, kebijakan suku bunga, dan persyaratan cadangan.
Kebijakan moneter dan fiskal dapat bekerja sama atau bertentangan satu sama lain. Pemilihan kebijakan fiskal dan moneter yang tepat harus disesuaikan dengan kondisi perekonomian yang dihadapi, misalnya, ketika pemerintah melakukan kebijakan fiskal ekspansif dengan meningkatkan pengeluaran pemerintah dan bank sentral dapat melakukan kebijakan moneter kontraktif dengan menaikkan suku bunga untuk mencegah inflasi yang berlebihan.
· Kebijakan
Segi Penawaran
a. Stagflasi
dan Kebijakan Segi Penawaran
Kondisi ekonomi di mana terjadi
kombinasi antara tingkat inflasi yang tinggi dan pertumbuhan ekonomi yang
lambat atau bahkan kontraksi disebut sebagai stagnasi. Kondisi ini merupakan
masalah serius karena kebijakan yang biasa digunakan untuk mengatasi inflasi
dapat memperburuk masalah pertumbuhan ekonomi yang rendah. Dalam situasi
seperti ini, kebijakan segi penawaran, yang bertujuan untuk meningkatkan
kapasitas produksi dan produktivitas perekonomian dengan tujuan untuk mendorong
pertumbuhan ekonomi jangka panjang dan mengendalikan inflasi, dapat menjadi
relevan. Dalam keadaan stagflasi, beberapa pendekatan kebijakan segi penawaran
mungkin termasuk:
1) Reformasi
Struktural: Untuk meningkatkan produktivitas dan efisiensi dalam jangka
panjang, reformasi sektor ekonomi dapat termasuk perubahan kebijakan regulasi,
perubahan pasar tenaga kerja, dan peningkatan infrastruktur.
2) Pendidikan
dan Pelatihan: Peningkatan produktivitas dan daya saing ekonomi dapat dicapai
melalui investasi dalam pendidikan dan pelatihan untuk meningkatkan
keterampilan tenaga kerja.
3) Inovasi
dan Penelitian: Untuk meningkatkan daya saing industri dan mendorong
pertumbuhan jangka panjang, penelitian dan inovasi diperlukan.
4) Fleksibilitas
Pasar Tenaga Kerja: Untuk membuat pasar tenaga kerja lebih responsif terhadap
perubahan ekonomi, kebijakan yang mendukung fleksibilitas pasar memungkinkan
sumber daya beralih ke sektor-sektor yang lebih produktif.
5) Ketertarikan Investasi: Menciptakan lingkungan investasi yang menguntungkan untuk mendorong sektor swasta untuk berinvestasi dalam inovasi dan produksi.
Perlu diingat bahwa kebijakan segi penawaran membutuhkan waktu dan seringkali bersifat jangka panjang. Oleh karena itu, koordinasi yang baik antara kebijakan segi penawaran dan kebijakan lainnya, seperti kebijakan fiskal dan moneter, sangat penting untuk menangani stagflasi.
b. Inflasi
dan Kebijakan Segi Penawaran
Kebijakan segi penawaran yang
berfokus pada komponen yang mempengaruhi kapasitas produksi dan produktivitas
ekonomi dapat memiliki pengaruh yang signifikan terhadap tingkat inflasi
perekonomian. Beberapa elemen penting kebijakan ini yang dapat mempengaruhi
inflasi meliputi:
1) Reformasi
Struktural: Untuk meningkatkan produktivitas dan efisiensi, reformasi sektor
ekonomi tertentu dapat dilakukan. Ini dapat mencakup perubahan dalam peraturan
bisnis, perizinan, dan peraturan lingkungan.
2) Investasi
dalam Teknologi: Penting untuk mendorong investasi dalam inovasi dan teknologi
untuk meningkatkan efisiensi produksi karena kemajuan teknologi dapat
mengurangi biaya produksi dan meningkatkan produktivitas.
3) Pendidikan
dan Pelatihan: Investasi dalam pendidikan dan pelatihan untuk meningkatkan
kemampuan tenaga kerja Tenaga kerja yang lebih terampil dapat mengurangi
ketidakseimbangan antara penawaran dan permintaan dan berkontribusi lebih
banyak pada produksi.
4) Fleksibilitas
Pasar Tenaga Kerja: Meningkatkan fleksibilitas pasar tenaga kerja dapat
membantu mengurangi tekanan inflasi yang disebabkan oleh ketersediaan tenaga
kerja yang terbatas.
5) Ketertarikan
Investasi: Menciptakan lingkungan investasi yang menguntungkan dapat mendorong
sektor swasta untuk berinvestasi dalam lebih banyak kapasitas produksi, yang
dapat mengurangi tekanan inflasi.
6) Ketertarikan Investasi di Infrastruktur: Kapasitas produksi dan efisiensi distribusi dapat ditingkatkan dengan investasi dalam infrastruktur, yang dapat meningkatkan inflasi.
Penting untuk diingat bahwa dampak kebijakan segi penawaran terhadap inflasi mungkin tidak langsung dan dapat berkembang seiring waktu. Untuk mencapai keseimbangan yang tepat dalam mengatasi inflasi dan mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan, juga penting untuk bekerja sama dengan kebijakan moneter dan fiskal.
c. Pengangguran
dan Kebijakan Segi Penawaran
Beberapa strategi kebijakan segi
penawaran yang dapat membantu mengurangi tingkat pengangguran meliputi:
Kebijakan segi penawaran yang berfokus pada faktor-faktor yang mempengaruhi
pasar tenaga kerja dan produktivitas dapat memainkan peran penting dalam mengatasi
masalah pengangguran.
1) Pendidikan
dan Pelatihan: Investasi dalam pendidikan dan pelatihan untuk meningkatkan
keterampilan tenaga kerja dapat mengurangi ketidakcocokan keterampilan dan
membuat pencari kerja lebih mudah bersaing di pasar tenaga kerja.
2) Fleksibilitas
Pasar Tenaga Kerja: Meningkatkan fleksibilitas pasar tenaga kerja dapat
membantu perusahaan dan pekerja beradaptasi dengan perubahan ekonomi, termasuk
perubahan permintaan tenaga kerja.
3) Inovasi
dan Teknologi: Dengan mendorong inovasi dan adopsi teknologi baru dalam
berbagai sektor ekonomi, dapat mengurangi pengangguran dan menciptakan lapangan
pekerjaan baru.
4) Pemberdayaan
Usaha Kecil dan Menengah (UKM): Dimungkinkan untuk menambah jumlah lapangan
kerja dengan mendukung UKM. Untuk pengusaha kecil, inisiatif ini dapat mencakup
penyediaan akses ke sumber daya keuangan dan pelatihan.
5) Reformasi
Struktural: Melakukan reformasi di beberapa sektor ekonomi, seperti mengubah
kebijakan pajak dan peraturan bisnis, dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi
dan menambah lapangan kerja.
6) Peningkatan
Investasi Infrastruktur: Investasi dalam proyek infrastruktur dapat mendorong
pertumbuhan ekonomi dalam jangka panjang dan menciptakan lapangan pekerjaan
langsung.
7) Kebijakan Pemberdayaan Masyarakat: Bagi orang yang sulit menemukan pekerjaan di sektor formal, kebijakan yang memberdayakan masyarakat, seperti pelatihan kewirausahaan dan dukungan untuk penciptaan usaha mandiri, dapat menawarkan alternatif.


