Langsung ke konten utama

BAB IV. KETEPATAN MEMBANGUN TEORI PERILAKU KONSUMEN

KETEPATAN MEMBANGUN TEORI PERILAKU KONSUMEN

Nama: Putri Ayunda Anggraeni
NIM: 222010200219
Dosen Pengampu: Tofan Tri Nugroho. S.E., M.M.
Prodi: Manajemen
Fakultas: FBHIS
Universitas: Universitas Muhammadiyah Sidoarjo

·         Perilaku Konsumen

Proses yang dilakukan seseorang atau organisasi dalam mencari, membeli, menggunakan, mengevaluasi, dan membuang barang atau jasa setelah digunakan untuk memenuhi kebutuhannya dikenal sebagai perilaku konsumen. Perilaku konsumen dapat dilihat dalam beberapa fase, yaitu sebelum pembelian dan setelah pembelian. Pada tahap belum pembelian, konsumen mencari informasi tentang produk dan jasa.

Konsumen akan membeli produk, menggunakannya, dan menilai kinerjanya setelah menggunakannya. atau aktivitas individu yang secara langsung terlibat dalam mendapatkan dan menggunakan barang dan jasa, termasuk proses pengambilan keputusan tentang persiapan dan penentuan aktivitas tersebut.

Konsumen dapat berupa individu atau organisasi, dan mereka dapat bertindak sebagai inspirator, pengaruh, pembeli, pembayaran, atau pengguna. Perusahaan dapat membagi pelanggannya ke dalam kelompok berdasarkan faktor-faktor seperti geografi, demografi, dan psikografi untuk lebih memahami kebutuhan dan keinginan mereka dan memenuhi mereka.

·         Macam-macam Teori Perilaku Konsumen

a.       Teori Ekonomi Mikro. Menurut teori ini, setiap pembeli akan berusaha untuk mencapai tingkat kepuasan yang paling tinggi. Jika mereka merasa puas dengan produk yang mereka beli, mereka akan berusaha untuk mempertahankan pembelian produk tersebut sampai mereka mencapai tingkat kepuasan yang sebanding atau lebih tinggi dengan marginal utility yang dapat diperoleh dari pengeluaran yang sama untuk produk lain.

b.       Teori Psikologis. Teori ini bergantung pada bagaimana kekuatan lingkungan mempengaruhi faktor psikologis individu. Bidang psikologis ini sangat rumit untuk menganalisis perilaku pelanggan karena proses mental tidak dapat diamati secara langsung.

c.       Teori Antropologis. Selain itu, teori ini menekankan perilaku pembelian dari suatu kelompok masyarakat, yang mencakup berbagai macam kelas sosial, kebudayaan, dan sebagainya.

·         Dua Macam Pendekatan Teori Perilaku Konsumen

1.       Pendekatan Marginal Utility (MU)

a.       Asumsi Pendekatan MU

1)     Utility bisa diukur dengan uang atau dengan satuan lain.

2)     Hukum gossen, atau hukum pengurangan margin utilitas, menyatakan bahwa margin utilitas, atau tambahan kepuasan, akan menurun seiring dengan jumlah barang yang dikonsumsi.

3)     Konsumen selalu berusaha mencapai kepuasan sepenuhnya.

Menurut teori ini, satuan util dapat digunakan untuk mengukur tingkat kepuasan konsumen yang dihasilkan dari penggunaan barang. Aliran ini menganggap bahwa tinggi rendahnya nilai suatu barang tergantung pada subjek yang memberikan penilaian, sehingga suatu barang baru memiliki arti bagi pembeli hanya jika itu bermanfaat bagi mereka.

b.       Nilai Guna Total, dan Nilai Guna Marjinal

Nilai guna total dapat didefinisikan sebagai jumlah kepuasan yang diperoleh secara keseluruhan dari mengonsumsi sejumlah barang tertentu.

Nilai guna marjinal menunjukkan apakah kepuasan meningkat atau menurun sebagai akibat dari penggunaan unit barang tertentu.

c.       Teori Nilai Guna dan Teori Permintaan

·     Teori Nilai Guna

Dalam teori ekonomi, nilai guna atau utility mengacu pada kepuasan atau kenikmatan yang diperoleh seseorang saat mengkonsumsi sesuatu. Nilai guna atau utility meningkat seiring dengan tingkat kepuasan seseorang.

·     Teori Permintaan

Dalam ekonomi, teori permintaan mengatakan bahwa permintaan memengaruhi harga. Oleh karena itu, teori ini mengatakan bahwa harga barang akan naik ketika permintaan di pasar naik, tetapi harga akan turun ketika permintaan turun.

d.       Surplus Konsumen

Surplus konsumen menunjukkan keuntungan netto (dalam bentuk kepuasan) yang diperoleh konsumen sebagai hasil dari pertukaran bebas dan spesialisasi dalam produksi. Surplus konsumen juga dikenal sebagai kelebihan atau perbedaan antara kepuasan total atau total utility (yang dinilai dengan uang) yang dinikmati konsumen dari mengkonsumsi sejumlah barang tertentu dengan pengorbanan totalnya (yang dinilai dengan uang) untuk memperoleh atau mengkonsumsi jumlah barang tersebut.

 

2.       Pendekatan Indefference Curve (IC)

a.       Asumsi Indefference Curve (IC)

Gambar Indefference Curve

a)     Turun dari kiri atas ke kanan bawah

b)     Cembung ke arah origin.

c)     Tidak saling memotong.

d)     Yang terletak di sebelah kanan atas menunjukkan tingkat kepuasan yang lebih tinggi (tanpa perlu menunjukkan berapa lebih tinggi, yaitu asumsi ordinal utility).

b.       Ciri-ciri Kurve IC

1) Kurva perbedaan memiliki kemiringan yang negatif (negatively sloped). Untuk mencapai kepuasan yang sama, jumlah barang dalam satu bundel konsumsi harus ditambah jika jumlah barang lain dikurangi.

2)   Tidak dapat berpotongan (cannot intersect). Perpotongan antara dua kurva indiferensi tidak mungkin terjadi.

3)  Cembung terhadap titik origin (convex to the origin). Ini menunjukkan penurunan derajat penggantian antar barang yang dikonsumsi. Derajat penggantian menunjukkan berapa banyak barang yang harus ditambahkan ke dalam bundel konsumsi untuk mempertahankan tingkat kepuasan yang sama sambil mengurangi satu satuan barang yang lain.

c.       Garis Anggaran Pengeluaran

Kurve kepuasan adalah kurva yang sama yang menggambarkan keinginan pelanggan untuk mendapatkan barang-barang dan kepuasan yang akan mereka peroleh dari memiliki barang-barang tersebut. Namun, konsumen tidak dapat mendapatkan semua barang yang diinginkannya karena mereka dibatasi oleh jumlah uang yang mereka miliki untuk dibelanjakan.

Bagaimanakah ia harus membelanjakan pendapatan yang ada padanya sehingga pengeluaran tersebut menciptakan kepuasan yang paling maksimum.

Misalkan seorang konsumen mengeluarkan uang sebanyak Rp90.000,- untuk membeli pakaian dan makanan.

Misalkan harga makanan adalah Rp6.000,- untuk setiap unit dan harga pakaian adalah Rp9.000,- untuk setiap unit. Berikut menunjukkan berapa gabungan makanan dan pakaian yang dapat dibeli oleh uang yang dimiliki konsumen Garis Anggaran Pengeluaran. Pada titik X, konsumen masih memiliki sisa yang (90.000 – 63.000) sebesar Rp27.000,-. Sedangkan pada titik Y, konsumen memerlukan tambahan uang untuk membelinya yaitu (144.000 – 90.000) sebesar Rp 54.000,-.

X = (6 x 6.000) + (3 x 9.000)

   = 36.000 + 27.000

   = 63.000

Y = (9 x 6.000) + (10 x 9.000)

   = 54.000 + 40.000

   = 144.000

d.       Akibat Perubahan Harga (Price Effect) dan Perubahan Pendapatan (Income Effect)

Ketika kita mengatakan bahwa permintaan untuk suatu barang bertambah jika harganya turun atau sebaliknya, yang sebenarnya adalah interaksi total antara kekuatan pengaruh perubahan harga terhadap keseimbangan konsumen. Dengan kata lain, jika harga suatu barang turun, ada dua faktor yang dipengaruhi:

1)     Harga barang relatif lebih murah, sehingga jika tingkat kepuasan pelanggan tetap sama dan pendapatan nyata tetap, pelanggan akan menambah jumlah barang yang harganya relatif lebih murah dan mengurangi jumlah barang yang harganya relatif lebih mahal.

2)     Jumlah permintaan berubah karena perubahan pendapatan nyata. Jika perubahan ini dilihat dari harga barang lain dan pendapatan nominal dianggap tetap, efek pendapatan akan dilihat.

e.       Kepuasan Total Maksimum

Konsumen dapat mencapai tingkat kepuasan total (total utility) dan kepuasan tambahan (marginal utility). Jika mereka memiliki kepuasan yang sama pada berbagai barang, mereka dapat mencapai kondisi keseimbangan atau mencapai kepuasan maksimum.

 

Kunawangsih, Tri Pracoyo dan Antyo Pracoyo. 2006. Aspek Dasar Ekonomi Mikro. Jakarta: PT. Grasindo.

Riniwati, Harsuko, dkk. 2022. Ekonomi Mikro. Malang : Media Nusa Creative.

Sularsp, Andi, dkk. 2017. Aplikasi Dalam Ekonomi Manajerial. Sidoarjo : Zifatama Jawara.

Postingan populer dari blog ini

BAB III. KEWIRAUSAHAAN DAN KEPEMILIKAN BISNIS

Nama                              : Putri Ayunda Anggraeni NIM                                : 222010200219 Kelas                               : 5A4 Manajemen Dosen Pengampu      : Tofan Tri Nugroho, S.E., M.M Mata Kuliah               : Manajemen Bisnis      BAB III. KEWIRAUSAHAAN DAN KEPEMILIKAN BISNIS Apa itu Usaha Kecil?          Usaha kecil adalah jenis bisnis yang memiliki skala operasi, jumlah karyawan, dan pendapatan yang relatif kecil dibandingkan dengan perusahaan besar. Contoh: toko kelontong, tempat cuci kering, salon rambut yang dimiliki dan dioperasikan secara lokal. Pentingnya Usaha Kecil dalam Perekonomian...

BAB XIV. INFORMASI TEKNOLOGI (IT) UNTUK BISNIS

Nama                              : Putri Ayunda Anggraeni NIM                                : 222010200219 Kelas                               : 5A4 Manajemen Dosen Pengampu      : Tofan Tri Nugroho, S.E., M.M Mata Kuliah               : Manajemen Bisnis         BAB XIV. INFORMASI TEKNOLOGI (IT) UNTUK BISNIS Teknologi Informasi (TI)               Teknologi Informasi (TI) mencakup berbagai alat dan perangkat yang digunakan untuk membuat, menyimpan, bertukar, dan memanfaatkan informasi dalam berbagai bentuk. TI telah membawa dampak signifikan dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk perdagangan elek...

BAB XIII. DISTRIBUSI DAN PROMOSI PRODUK

Nama                              : Putri Ayunda Anggraeni NIM                                : 222010200219 Kelas                               : 5A4 Manajemen Dosen Pengampu      : Tofan Tri Nugroho, S.E., M.M Mata Kuliah               : Manajemen Bisnis              BAB XIII. DISTRIBUSI DAN PROMOSI PRODUK Campuran Distribusi               Keberhasilan produk tidak hanya bergantung pada bauran produk dan harga, tetapi juga pada bauran distribusi. Pentingnya saluran distribusi yang digunakan untuk menyalurkan produk kepada konsumen akhir, serta manfaat yang diperoleh konsumen dari pe...